Nurlina, Pahlawan Nelayan Perempuan
Pejuang perempuan pulau, Nurlina namanya atau yang biasa dipanggil Lina merupakan perempuan muda kelahiran 18 Maret 1988 yang berprofesi sebagai nelayan di kampungnya, Pulau Sabangko, Desa Mattiro Bombang, Kecamatan Liukan Tuppakbiring, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
Nurlina hanya satu dari begitu
banyak perempuan Indonesia yang berani hidup sebagai diri sendiri. Ia meyakini,
tak ada yang salah dengan keputusannya mempertahankan hidup dan hak sebagai
nelayan..
Lina sedari kecil sudah terbiasa pergi
ke laut menjadi nelayan menumpang perahu pamannya. Namun hal itu tidak bisa
terus menerus ia lakukan karena kadang ia merasa tidak nyaman. Perahu pamannya
juga harus menghidupi keluarga pamannya sendiri.
Jika tidak pergi melaut, Lina
akan memperbaiki jala yang rusak dan mengikat rumput laut dengan upah
penghasilan yang sangat minim, yaitu berkisar 6.000-15.000 perhari. Hal itu
dilakukan karena hanya itu pekerjaan yang tersedia untuk perempuan pulau.
Hal ini membuat Lina ingin
memiliki perahu sendiri, karena dengan pergi melaut penghasilannya akan jauh
lebih banyak. Sayangnya bantuan pemerintah (Kabupaten Pangkajene dan
Kepulauan/Pangkep) berupa perahu motor kecil hanya diberikan kepada laki-laki.
Hal ini dikarenakan stereotipe kebanyakan orang bahwa profesi nelayan adalah
profesi laki-laki, sedangkan kemampuan Lina dan perempuan pulau lainnya untuk
pergi melaut dianggap tidak ada.
Lina dan teman-temannya tidak
tinggal diam, mereka mendesak Pemkab Pangkep untuk juga memberikan bantuan
perahu kepada perempuan. Meski berkali-kali mengalami penolakan, ia tetap yakin
dan memperjuangkan haknya karena menurutnya profesi nelayan bukan hanya untuk
laki-laki. Meski melewati proses yang panjang dan rumit karena sulit untuk
mengubah pandangan ini, Lina dan teman-temannya akhirnya menemui keberhasilan.
Tidak hanya digunakan untuk pergi
mencari nafkah, perahu bantuan tersebut juga Lina dedikasikan untuk perempuan
pulaunya yang ingin pergi berobat ke putsu (puskesmas pembantu) terdekat dan
untuk membantu mobilisasi anak-anak sekolah menyebrang ke pulau lain.
Kisah ini menginspirasi banyak
orang lewat pilihan Lina untuk bersuara dan bertahan memperjuangkan jalan
hidupnya dan perempuan-perempuan pulau lainnya.
Human Initiative dalam Humanity Award
2021 mengapresiasi kisah Lina dan perjuangannya dalam kategori Aktor Kemanusiaan
Lokal.
Dari Nurlina kita belajar bahwa
menjadi minoritas bukan berarti masalah, banyak cara yang bisa kita tempuh
untuk memperjuangkan hal-hal yang kita anggap benar.
Komentar
Posting Komentar