Mbah Rono, Sosok Sederhana Penjaga Gunung Api
JAKARTA – Pada ajang Humanity
Award 2021 yang berlangsung pada Rabu, 15 Desember lalu, Dr. Surono mantan
Kapus Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi berkesmpatan menerima
penghargaan dalam kategori Lifetime Achievement.
Sosok sederhana yang Lahir di
Cilacap, 8 Juli 1955 ini merupakan ayah dari 2 orang anak perempuan yang telah menyelesaikan
studi S1-nya di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1982. Pada 1989 ia
kemudian melanjutkan S2 nya di Bidang Geofisika di Universitas Grenoble,
Prancis dan melanjutkan S3 Bidang Geofisika di universitas yang sama pada 1992.
Beliau merupakan sosok yang lugu,
sederhana, pintar dan terkenal berjiwa humanis. Motivasinya menjadi seorang
vulkanologi hadir dari rasa iba saat ia melihat kondisi masyarakat yang
terdampak erupsi. Kerugian dari sisi jiwa serta materi, kerusakan fasilitas, serta
tak jarang hilangnya nyawa menggerakan hati Mbah Rono untuk mendorong dirinya
supaya bisa lebih banyak membantu orang agar terbebas dari bencana.
Karena pekerjaannya ini, ia
terbiasa meninggalkan keluarganya demi tugas mulia; mengamati kondisi gunung
yang bergejolak dan memberikan penjelasan kepada warga mengenai radius bahaya
gunung berapi. Hal ini tentu bukan pekerjaan mudah untuk meyakinkan warga pergi
mengungsi dari bahaya yang sudah ada didepan mata.
Sebelum menjadi Kepala Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), bapak dua anak ini, memang
merintis karir di PVMBG Departemen ESDM. Di Kementerian ESDM, awalnya Surono
menjadi staf Divisi Pengamatan Gunung Api sejak 1982 hingga akhirnya dipercaya
menjadi Kepala PVMBG mulai 2006. Beliau juga pernah menjabat sebagai staf ahli
di Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Keahliannya tentang kegunungapian
dikantonginya dari berbagai lembaga dunia. Seperti dari Unesco (Organisasi
Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan
USGS (sebuah lembaga Survei Geologi AS).
Menurut Dr. Surono, tidak banyak
anak bangsa yang tertarik untuk menjadi vulkonolog, di samping tugasnya berat,
perhatian negara terhadap nasib mereka juga belum memadai.
Komentar
Posting Komentar