Sandiaga Uno: Kontribusi Ekraf Terhadap PDB Indonesia Terbesar Ketiga di Dunia
Satu setengah tahun sudah kita berada pada masa pandemi, sekarang kita sedang berada di fase FUCA yang terdiri dari fluctuation (gejolak), uncertainty (ketidakpaastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (keadaan ambigu), untuk itu diperlukan lebih banyak inovasi, adaptasi, dan kolaborasi untuk bertahan di fase ini. Setidaknya itu yang disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahudin uno pada Webinar Pelestarian Budaya Lokal Melalui Bisnis Fesyen.
Webinar
yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Tenun Nasional itu mengundang
beberapa speaker terkenal tanah air di antaranya Sandiaga Salahudin Uno,
Handoko Hendroyono, Didiet Maulana, dan Zee Zee Shahab. Pada kesempatan kali
itu, Sandiaga hadir menggunakan kain tenun yang ia sampirkan di salah satu
pundaknya. Diketahui, kain tenun tersebut merupakan wastra dari Kabupaten Nakegeo
Nusa Tenggara Timur.
Menurut
Sandi, sejak tahun 2020 sektor ekonomi kreatif memiliki kontribusi yang cukup
tinggi. Ekonomi Kreatif Indonesia kini menempati posisi ke 3 di dunia dalam kontribusinya
kepada PDB Indonesia setelah didahului oleh Amerika dan Korea selatan.
Indonesia menduduki posisi ke 3 oleh 1.100 triliyun lebih kontribusi kepada PDB
melalui terbukannya 20 juta lapangan pekerjaan.
Untuk
itu diharapkan kepada 3 subsektor yang merupakan tulang punggung ekonomi
kreatif yaitu fesyen, kuliner, dan kriya untuk lebih banyak melakukan inovasi
dan berkontribusi terutama dalam era digitalisasi.
Sektor
fesyen sendiri merupakan salah satu dari 3 subsektor ekraf yang menjadi
penyumbang tersebar yaitu sekitar 17% penyerap tenaga kerja di mana kebanyakan
dari mereka adalah UMKM. Untuk itu, sektor ini perlu didorong terus supaya
kedepannya bisa menjadi kontributor penyerap tenaga kerja, nilai ekspor, dan
kekuatan ekonomi Indonesia.
Salah
satu yang menjadi perhatian adalah wastra nusantara. Wastra sendiri adalah kain
tradisional yang sarat akan makna nusantara. kain ini masing-masing memiliki
kisah dan cerita. Wastra memiliki ciri yang sangat khas mulai dari corak,
warna, simbol, filosofi, pengalaman, serta kenangan yang tersimpan.
Perlu
semangat dan aksi gotong royong serta sinergitas semua unsur masyarakat untuk
mendukung wastra nusatrara, dengan begitu diharapkan tenun akan semakin dikenal
tak hanya dalam negeri tapi juga sampai manca negara. Jangan lagi hanya bangga
akan produk lokal, tapi juga bangga, beli, dan gunakan produk buatan lokal.
Sandiaga
juga mengapresiasi Human Initiative atas perhatiannya yang besar terhadap para wanita
pengrajin tenun. Semoga webinar ini tidak hanya menjadi ajang diskusi sesaat
tetapi berkelanjutan bahkan menjadi wadah berbagi informasi, ilmu serta aksi
untuk peluang kerja yang lebih luas, pengetahuan mendalam serta bentuk
pelestarian wastra nusantara.
Bentuk
lain dukungan Human Initiative sebagai lembaga kemanusiaan juga diwujudkan
dalam kegiatan pemberdayaan perempuan untuk terus melestarikan kain tenun khas
Lombok. Program yang berkolaborasi dengan Pertamina ini berbentuk pendampingan
serta fasilitas untuk para kelompok perempuan pengrajin Kain Tenun Tanimbar.
Ibu-ibu
penenun dari Desa Pringgasela juga tak luput dari perhatian. Berkat hasil
pemberdayaan diikuti dengan dukungan fasilitas dan pendampingan dari Human
Initiative, kaum ibu-ibu pengrajin Kain Tenun Pringgasela sampai saat ini terus
menjadikan kegiatan menenun sebagai hobi sekaligus mengisi waktu di masa
pandemi.
Komentar
Posting Komentar